MAU
Oleh: Moh. Rofayat
Bel tanda masuk berbunyi, pertanda bahwa waktu istirahat sudah habis. Saya beranjak dari kantor menuju kelas X. Di ruang kelas, terdapat seorang murid perempuan duduk sambil mengunyah pentol dari tangan kanannya dalam kemasan bungkus plastik. Sedangkan pada tangan kirinya menggenggam kemasan air gelas. Saya bertanya murid yang belum masuk ada di mana? Dijawabnya dengan nada lirih, bahwa mereka masih di luar. Sambil menunggu kedatangannya, saya menyalakan sebatang rokok, sedangkan murid tersebut melanjutkan makan pentol hingga tuntas.
Berkisar 10 menit saya menunggu, dihisapnya dalam-dalam sebatang rokok dengan rasa penasaran, apakah mereka tidak mendengar bunyi bel tanda masuk?
Setelah menit ke 15 saya menunggu, mereka baru datang membawa beberapa camilan, lengkap dengan minumnya. Saya bertanya, kenapa bisa terlambat?
Di jawabannya dengan dua alasan. Pertama, mereka terlambat karena masih beli makan atau jajan di toko sekitar Madrasah, karena sewaktu istirahat, saat mau makan MBG, petugas sudah datang menjemput ompreng MBG tersebut. Jadi, mereka memilih tidak makan MBG. Biasanya, distribusi MBG dari dapur, tiba pukul 08.30 dan dijemput sekitar pukul 10.00 WIB. Kedua, alasan karena waktu istirahat sedikit alias kurang lama. Mendengar alasan tersebut, saya berusaha menerima dan memahaminya, mungkin murid memang butuh waktu istirahat lebih lama.
Semua murid duduk di tempatnya masing-masing. Bangku terisi penuh. Peristiwa ini merupakan pertemuan minggu kedua materi Sosiologi. Suasana kelas diawali oleh ungkapan rasa kesal lewat bunyi bahasa yang saling berebut ruang untuk didengar.
Sambil menyimak protes murid, saya terus menghisap batang rokok dalam-dalam dan menyiapkan telinga agar lebih terbuka untuk mendengar, sebab kemauan murid juga perlu diberi ruang.
Ruang kelas berangsur diam setelah saya menyanggupi berbagai protes yang diluncurkan. Namun wajah mereka terus mengirim sinyal dari sehimpun harapan.
Sampai hisapan batang rokok terakhir, saya mengajak mereka untuk memulai pelajaran dengan menggelar pertanyaan dari teks buku Sosiologi: Kenapa manusia sebagai makhluk individu harus bersosialisasi?
Ruang kelas mendadak hening. Masing-masing murid membuka halaman buku, kemudian memberi jawaban satu persatu. Setiap jawaban menunjukkan ragam kecerdasan pada setiap individu. Ada yang menjawab denga cara membaca apa yang ada di buku, ada yang berusaha menjelaskan melalui bantuan catatan, ada yang lancar memapar dengan mengunakan nalar tanpa bersandar pada referensi buku.
Secara umum, jawaban atas pertanyaan tersebut menyebutkan bahwa manusia sebagai individu tidak pernah lepas dari kebutuhan terhadap orang lain, sebab itu, manusia dikatakan sebagai mahluk sosial, dalam pengertian, manusia selalu "mengada bersama" melaui eksistensinya. Aku menjadi aku, hanya ditemukan dalam relasinya dengan orang lain. Aku mengada menjadi sesama bagimu.
Untuk mengenali perihal kesosialan dan otonomi individu, kita akan melihat bahwa manusia sebagai makhluk sosial karena dimungkinkan oleh relasinya dengan orang lain, tetapi, manusia sebagai person, tetaplah otonom dan berdiri sendiri. Dari dua hal tersebut, menggambarkan paradoks dalam kebenaran tunggal, ia saling menyatu.
Pandangan tersebut, sejalan dengan penjelasan bahwa kematangan sosial selalu bergerak bersamaan dengan proses pendewasaan person atau individu. Semakin manusia menyelami relung keunikannya sebagai individu, maka ia mengarah pada kualitas sosial yang kian matang dan tumbuh.
Kita tahu, bahwa keberadaan manusia dalam dunia bukan hanya mengalami proses biologis yang berorientasi pada pemuasan hasrat atau ego, melainkan hadir bersama orang lain yang memungkinkan diri bertindak, berpikir dan belajar melihat dari perspektif orang lain dengan mencopot baju egosentris.
Artinya, setiap manusia dilahirkan untuk sesuatu yang jauh lebih besar dari kepentingan diri sendiri, sebab kelahiran manusia berjejak pada proses menuju kemanusiaan dalam pencarian untuk mengenal diri sendiri. Kemanusiaan bisa diraih kalau individu tinggal di lingkungan yang manusiawi. Lingkungan adalah ruang yang menciptakan benih bagi segenap potensi. Ia menentukan bagaimana pertumbuhan individu terbentuk.
Demikian saya menghampar masalah sosial dalam konteks krisis identitas manusia sebagai individu. Utamanya yang sedang dihadapi oleh generasi Alpha, murid kelas X. Masalah utamanya terletak pada teknis pengelolaan ego yang tidak selesai.
Berdasarkan pengamatan terbatas yang saya jumpai dari pengalaman gen Z hingga gen Alpha, setiap kali mereka menghadapi masalah seperti jenuh, bosan, capek, lelah, dan seterusnya, maka solusinya segera berkunjung ke ruang tamasya digital, lewat jelajah teknologi dan aktivitas scrolling, sehingga tubuh mereka tidak terlatih sebagai medan yang mengisi atau menempa kualitas hidup, di mana suatu masalah harus dihadapi dengan pengalaman yang hadir.
Setiap pengalaman yang dimiliki oleh individu, adalah tempat atau latar belakang dimana pemikiran bertumpu dan berorientasi.
Menyilangkan pengamatan saya terkait kecenderungan gen Z dan gen Alpha dengan pengalaman murid, muncul rasa penasaran untuk melihat apa sebetulnya yang menghuni pemikiran murid? Apa kemauan mereka? Apa rencana dan agenda yang tersimpan di dalam kepalanya? Kemudian, untuk menebus rasa penasaran yang ada, saya meminta mereka untuk menuliskan sesuatu yang ingin dilakukan segera, dalam waktu sekarang?
Mereka bergantian beranjak menghampiri papan, menulis apa-apa yang ingin segera dilakukan itu. "Mau tidur pulas, mau pindah pondok, mau pulang sekolah, tidak mau dihakimi, pergaulan bebas, main game, sekolah bawa HP, mau nikah, mau bebas dan mau, mau, mau, mau, mau lainnya yang memuaskan kepentingan diri sendiri". Papan penuh dengan keinginan dan harapan. Belum ditemukan dari murid, yang menulis mau belajar.
Mungkin, tugas kita bukan hanya mengajar. Tapi membantu mereka menemukan, bahwa "mau" yang paling besar bukan untuk kepentingan diri sendiri, tapi untuk menjadi manusia di antara manusia lain.








